Pemikiran bagi Sistem Pemerintahan Presidensial yang Efektif

02Des08

Untuk dapat tercapainya suatu sistem pemerintahan yang efektif, maka perlu pemikiran yang serius untuk menyelesaikan hambatan-hambatan yang mungkin timbul dari persoalan personalisasi lembaga kepresidenan, koalisi yang memerintah, serta hubungan kelembagaan.

Berkaitan dengan problema kecendrungan personalisasi lembaga kepresidenan, perlu dibuatkan pengaturan kelembagaan detail yang memungkinkan munculnya lembaga kepresidenan yang kuat. Ada beberapa hal yang semestinya melekat pada konseptualisasinya. Pertama, adalah adanya refleksi konseptual, substansi, filosofi, serta kewenangan dari presiden.

[1] Shugart and Carey sebagai contoh menguraikan dimensi kewenangan presiden:

We identify two basic dimensions of presidential power: one concerning power over legislation, the other encompassing non-legislative powers…The first set of aspects entail legislative powers constitutionally granted to the president. These aspects are the veto, the partial veto/override, presidential authority to legislate by decree, exclusive right to initiate certain legislative proposals, budgetary initiative, and power to propose referenda. Aspects of presidential power apart from the legislative domain include cabinet formation, cabinet dismissal ….

(Kami mengidentifikasi dua dimensi dasar dari kekuasaan presiden: kewenangan tentang legislasi, dan yang lain adalah kewenangan non-legislasi. Aspek pertama yang berkaitan dengan kewenangan legislasi yang dijamin konstitusi kepada presiden. Aspek-aspek tersebut adalah hak veto, hak veto bagian, mengeluarkan dekrit presiden, membuat usulan undang-undang, hak budget, dan membuat usulan referendum. Aspek yang merupakan kekuasan presiden tetapi terlepas dari domain legislatif termasuk pembentukan kabinet, pemberhentian anggota kabinet…)

Hal ini tidak terlepas dari pesan historik yang tertuang dalam konstitusi maupun aspirasi yang berkembang dalam masyarakat. Kedua, adalah adanya suatu sistem pemilihan lembaga kepresidenan yang sesuai dengan paparan yang di atas. Sebagai contoh kalau hendak memilih presiden yang mewakili segenap rakyat dan teritori seluruh Indonesia, maka harus dibuat mekanisme yang memungkinkan persyaratan itu dipenuhi. Dalam teori, sistem dua putaran lebih memungkinkan munculnya calon yang demikian. Oleh karena persyaratan suara mayoritas absolut dan wilayah bisa dilekatkan pada putaran pertama dan persyaratan suara terbanyak bisa dilekatkan pada putaran kedua. Ketiga adalah perlu dikaji peran dan fungsi berbagai elemen penunjang lembaga kepresidenan serta pembentukan struktur kelembagaan penunjang berdasarkan fungsi tersebut. Perlu juga dibuatkan pengaturan peran, lingkup aktivitas, serta hubungan elemen-elemen tersebut secara keseluruhan. Semuanya ditujukan untuk tercapainya sistem pemerintahan yang efektif.

Kedua adalah persoalan koalisi kekuatan politik pendukung presiden secara teoretik mestinya dilanjutkan dengan formalisasi koalisi antara kekuatan-kekuatan pengusung presiden dan partai yang memiliki kader menjadi pejabat pemerintah menjadi partai-partai yang memerintah.

[2] Ini akan mencegah polarisasi dan fragmentasi berlebihan antara berbagai kekuatan yang ada. Koalisi yang demikian memang dalam pengalaman beberapa negara di Amerika Latin memberikan fondasi kekuatan riil bagi penyelenggaraan pemerintahan secara lebih efektif meskipun kerapkali presiden yang terpilih dengan suara mayoritas berasal dari partai atau gabungan partai kecil. Bagi munculnya sebuah koalisi yang berarti maka faktor kepemimpinan dalam partai dan kedisiplinan partai menjadi kunci.

[3] Pengurus yang sah harus dibekali mekanisme demokratis untuk mendisiplinkan anggotanya. Demikian juga ada mekanisme akuntabilitas dalam segala kebijakan pimpinan yang sah yang mengatasnamakan lembaga. Karenanya adalah sesuatu yang mendesak untuk memperhatikan keterkaitan dan kalau perlu keberlanjutan koalisi antarpartai sebelum dan setelah pemilihan presiden.

[4] Ketiga, terhadap persoalan hubungan kekuasaan antar-lembaga,

[5] beberapa telah mengkajinya dengan serius. Kecenderungan ketidakharmonisan tersebut bisa dikurangi dengan cara meredefinisi kekuasaan masing-masing lembaga secara lebih detail. Dalam hal ini perlu ditemukan berbagai mekanisme dan prosedur yang memungkinkan munculnya sinergi berbagai lembaga.

[6] Sebagai contoh untuk mencegah konflik kewenangan antar legislatif maupun eksekutif dalam kewenangan legislasi, dibuat mekanisme yang mengharuskan kesepakatan pihak supaya peraturan perundangan tersebut bisa dinyatakan sah.

[7]


[1] Matthew Soberg Shugart and John Carey, Presidents and Assemblies, Cambridge: Cambridge University Press, 1992

[2] Jose Antonio Cheibub, “Minority Governments, Deadlock Situations, and the Survival of Presidential Democracies” Comparative Political Studies 35(3) (April 2003) 384-412, Sage Publications.

[3] Joe Foweraker, “Institutional Design, Party Systems, Governability: Differentiating the Presidential Regimes of Latin America, British Annal of Political Science 28 (4) (Oct. 1998) 656-674, Cambridge University Press, 1998.

[4] Joe Foweraker, “Institutional Design, Party Systems, Governability: Differentiating the Presidential Regimes of Latin America, British Annal of Political Science 28 (4) (Oct. 1998) 656-674, Cambridge University Press, 1998.

[5] Jose Antonio Cheibub, “Minority Governments, Deadlock Situations, and the Survival of Presidential Democracies” Comparative Political Studies 35(3) (April 2003) 384-412, Sage Publications.

[6] Argelina Cheibub Figuelredo and Fernando Limongi, “Presidential Power, Legislative Organization, and Party Behavior in Brazil, Comparative Politics, The City University of New York, Volume 32, Number 2, January 2000, 151-170

[7] Robert Elgie, “From Linz to Tsebelis: Three Waves of Presidential/Parliamentary Studies. Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan Dalam UUD 1945, Yogyakarta: FH UII Press, 2004.



No Responses Yet to “Pemikiran bagi Sistem Pemerintahan Presidensial yang Efektif”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: